Kamis, 26 Agustus 2010

Berbicara dengan Remaja sehingga Mereka Mau Mendengar

oleh: Rizki Dinar Winiar

Buku ini sangat baik dibaca oleh setiap orang, khususnya orang tua yang mempunyai anak usia remaja. Seringkali terdapat perbedaan persepsi antara keinginan anak dan keinginan orang tua, dan dalam buku ini digambarkan secara jelas kiat-kiat menemukan jembatan perbedaan itu.

Awal kisah bermula dari perkumpulan yang digagas oleh seorang psikolog, kurang lebih sepuluh orang tua berkumpul setiap minggu. Mereka mempunyai anak remaja usia 12-16 tahun. Setiap pertemuan mereka menceritakan kegalauan mereka akibat ulah para remaja itu. Masing-masing remaja tentu seperti halnya manusia lainnya, unik. Namun, ternyata ada persamaan hal-hal yang menjadi dasar untuk dapat mengenal, mendekati dan memahami mereka. Berikut adalah kuncinya.

Pertama, pahami bahwa seperti diri Anda dulu, sebagian remaja merasa ini adalah saat terindah dalam hidup mereka, mereka merasa lebih ‘hidup,’ bebas, punya banyak keinginan dan inilah masa pembuktian diri. Sebagian lainnya justru ingin segera melarikan diri, karena merasa ini adalah hal tersulit dalam hidup mereka. Persepsi yang salah tentang postur tubuh ideal dan popularitas telah mengubur kepercayaan diri mereka. Oleh karenanya, apapun yang dirasakan oleh putra-putri Anda saat ini, berikan mereka dukungan dan bimbingan. Biarkan mereka mengungkapkan perasaannya.

Langkah berikutnya adalah berdamai dengan perasaan yang mereka utarakan. Daripada menangkis dan mengabaikan perasaan mereka, lebih baik identifikasi/ coba mengerti apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Jangan justru memperlebar jurang bicara dengan berkomentar panjang lebar, cukup dengan ungkapan kecil namun bijak “ooh, mmm.. begitu ya.” Misalkan anak Anda mengalami patah hati pertama kali karena ‘pacar’nya ternyata ‘playboy.’ Di saat ia bercerita, jangan mengomentarinya dengan “tuh kan, emang dia brengsek, dari gayanya aja Mama udah tau kalau dia nakal, dia emang ga pantes buat kamu.” Sebaiknya, identifikasi perasaan mereka dengan berkata “Oh itu yang buat kamu kelihatan sedih akhir-akhir ini, pasti kamu kecewa ya...hmm, seandainya aja Ronny anak baik ya, Mama bersyukur sekali kalau kamu punya teman seperti dia.”
Dengan memahami perasaan mereka dan memberikan khayalan yang berbeda dari kenyataan, ternyata membuat remaja lebih nyaman menerima keadaan sesungguhnya dan membuat mereka merasa berhak didengar.

Setelah mampu memahami perasaan mereka, hindari melakukan perintah atau bersikap menyalahkan. Misalnya “Jangan makan pizza itu banyak-banyak” atau “Pulang sekolah taro baju yang bener di ember belakang” atau “Ini baju rusak gara-gara kamu yang cuci.” Sebaiknya berikan penjelasan atau informasi dengan cara yang baik seperti “Pizza ini cuma sedikit, karena kita sekeluarga ber-5, jadi masing-masing hanya kebagian satu dulu ya” atau “Baju ini sayang sekali selesai pakai langsung di buang ke lantai, karena kalau noda-noda minyak dan debu yang ada di lantai nempel, nanti susah hilangnya. Memang mau pakai baju yang ada corak coklatnya...?” atau “Lena sayang, lain kali sebelum cuci baju lihat dulu ya petunjuknya, biasanya ada di bagian dalam baju. Nah lihat kan, baju ini hanya boleh dicuci pakai tangan, kalau pakai mesin cuci jadi mengkerut.” Ungkapkan juga harapan Anda seperti “Mama makasih banget kamu mau bantu, mudah-mudahan kamu semakin menjadi anak yang bertanggung jawab, siapa tahu nanti kuliah jadi anak kos, yang segalanya harus mandiri.” Dengan begitu, remaja merasa bahwa dirinya mampu ‘berbuat sesuatu,’ bukan hanya ‘makhluk’ yang diperintah.

Memahami perasaan sudah, menghindari kata perintah ataupun menyalahkan sudah. Apalagi? Selanjutnya, Anda harus menentukan sikap apakah mereka harus dihukum atau tidak atas ‘kenakalannya.’ Kenapa? Karena ada sebagian anak yang merasa bahwa hukuman memang menolong mereka untuk kembali ke ‘jalan yang benar,’ namun sebagian lagi justru berpendapat itu akan membuat mereka merasa lemah, terpuruk dalam rasa bersalah yang berkepanjangan sehingga tidak lagi percaya terhadap dirinya sendiri. Celakanya, sebagian lagi justru mencari celah agar tidak lagi ‘ketahuan,’ mereka menjadi pembohong unggul! Hmm, ternyata ada alternatif hukuman lho. Caranya, begitu Anda tahu ada perbuatan mereka yang mengecewakan Anda, beritahu mereka, ungkapkan perasaan Anda, harapan Anda, beritahu mereka cara memperbaiki kesalahan, berikan tawaran/ pilihan dan lakukan aksi untuk mencegah terulangnya ‘kejadian.’ Misalnya “Papa kecewa sekali, karena tadi tanpa sengaja menemukan surat peringatan dari guru kamu di sekolah. Jadi, kamu sudah 3 hari ini bolos. Sebenarnya, Papa sangat berharap kamu senang belajar di sekolah, Papa dan Mama sedih karena tidak mudah rasanya mengumpulkan uang untuk sekolahmu nak.” Setelah Anda tahu alasan mereka, (ingat jangan mendesak alasannya) perlahan berikan mereka pandangan bagaimana memperbaiki kesalahannya, kemudian tawarkan pilihan seperti, “Besok, Papa temani ya, kita minta maaf sama-sama ke wali kelasmu. Kalau kamu bosan karena Pak gurunya ga jelas ngajarnya, kita bisa pilih tempat les yang kamu suka, yang bisa buat kamu semangat, atau mau bikin kelompok belajar?” Di hari lain, jika mereka terlihat tetap jenuh dengan pelajaran tersebut meskipun sudah memilih caranya sendiri untuk membuat kelompok belajar, lakukan aksi dengan perjanjian bahwa mereka harus tetap bertahan sampai menemukan cara yang mereka anggap paling nyaman dalam mempelajari mata ajar tersebut. Ketegasan dalam fase ini mutlak diperlukan, tidak ada salahnya menambahkan ‘ancang-ancang hukuman,’ seperti “Atau kamu mau untuk tidak main dulu sementara sebelum kamu ngerti pelajaran itu?” Jelas sekali perbedaannya, bahwa dengan hukuman kita sudah menutup rapat-rapat segala kemungkinan, namun dengan menawarkan solusi/ perjanjian kita tetap membuka peluang bagi mereka untuk memperbaiki kesalahannya. 

Step selanjutnya yakni dengan bekerja bersama-sama dalam menyelesaikan suatu masalah. Biarkan mereka memberikan pandangannya, begitu juga dengan Anda. Lakukan ‘brainstorming’ berdua, tulis dalam sebuah kertas. Jangan pernah mentertawakan apa yang menurut Anda ‘ide bodoh.’ Setelah itu, bersama-sama cari titik temu, mana yang bisa dilaksanakan. Misalnya anak Anda terlalu larut pulang malam, list ide yang mungkin Anda dan putra/i Anda tulis adalah ga boleh keluar malam lagi sampai nikah, jam malam diperpanjang 2 jam, Papa jemput ke tempat acara dsb. Mana yang paling mungkin untuk berdua. Misalnya jam malam diperpanjang tetapi hanya 1 jam, dan untuk acara-acara tertentu, seperti ulang tahun teman. Kuncinya, saling mendengar, saling bicara dan buat keputusan secara bersama-sama.

Dalam buku ini, langkah-langkah tadi adalah cara bijak yang perlahan-lahan diaplikasikan oleh para orang tua. Tetapi, tentu saja satu arah tidak akan cukup. Untuk itu, setelah tahapan tadi selesai, para anak dikumpulkan. Mereka diberikan kebebasan untuk menyampaikan perasaan mereka, tentang apa yang mereka inginkan dan tidak inginkan dalam rumah mereka. Apa yang mereka inginkan dari orang tua mereka dan apa yang mereka harapkan dari hubungan anak dan orang tua. Terungkap bahwa mereka ingin dimengerti, mereka tidak ingin di’judge’ harus begini harus begitu kamu begini kamu begitu. Hubungan pertemanan adalah hal yang paling nyaman yang bisa Anda ciptakan. Bicaralah dengan mereka, seperti layaknya sahabat sehati.

Bagian ini merupakan bagian yang cukup penting. Kenali teman-temannya. Ungkapkan pada diri putra/i Anda bahwa “teman adalah seseorang yang dengannya kamu bisa menjadi apa adanya dirimu, seseorang yang tidak berusaha untuk merubah kamu.” Jadi, berikan dasar-dasar seperti Anda telah belajar langkah-langkah sebelumnya, bagaimana memahami perasaan anak Anda, mengidentifikasi perasaannya dan memberikan khayalan yang berbeda dari kenyataan. Mereka pun harus melakukan hal yang sama kepada teman-temannya. Mintalah mereka melakukan hal yang sama pula kepada Anda. Tambahkan bahwa teman adalah salah satu hal paling berharga di dunia ini, jadi jika ingin dicintai mulailah mencintai, teman dan juga orang tua

Inti dari pertemuan anak dan orang tua adalah respek, sikap saling menghargai. Ceritakan apa yang Anda rasakan dan inginkan sebagai orang tua dan apa yang mereka rasakan serta inginkan sebagai anak. Hindari perselisihan dan saling menyerang. Jangan lupakan pujian, karena bisa semakin merekatkan hubungan baik Anda dan remaja. Pujilah dengan tulus usaha yang telah mereka lakukan bukan apa yang menurut Anda kedengaran ‘enak.’ Misalnya, daripada “Putri, kamu memang anak yang paling pintar!” atau “Cinta, kamu memang paling cantik!” lebih baik “Papa senang sekali semester ini kamu dapat rangking 5, Papa lihat kamu ngga pernah ngeluh setiap hari belajar dari pagi sampai sore. Papa bangga atas kerja keras kamu.” Atau “Cinta, Mama senang kamu sekarang sudah besar, bisa memilih baju yang cocok dengan usia kamu, rambutnya juga dirawat setiap hari, kamu terlihat cantik.” Pujian yang pertama terdengar manipulatif, apalagi jika anak Anda tidak merasa seperti yang Anda ucapkan. Sebaliknya, pujian yang kedua adalah ungkapan jujur Anda atas usaha mereka, dengan sendirinya mereka akan lebih menghargai diri mereka sendiri.

Terakhir, setelah hubungan baik terbina, Anda boleh mendiskusikan masalah seks ataupun obat-obat terlarang dengan putra/i Anda. Mulailah dengan bantuan radio, TV, majalah atau koran. Misalnya, di radio ada berita tentang penurunan angka kehamilan remaja belum nikah, Anda bisa mulai dengan “wah berita bagus nih, kira-kira kenapa ya, menurut kamu apa remaja sekarang sudah mulai pakai kondom? Atau... malah banyak yang tidak ingin melakukan hubungan seks sebelum nikah?” Anak Anda mungkin menjawab “Hm, ga tau deh, mungkin aja sih Pa.” Pembicaraan pun bisa berlanjut. Intinya, jangan tiba-tiba datang berceramah panjang lebar tentang hal itu ataupun menuduh mereka terlibat dalam pergaulan ‘bebas’. Anda juga perlu memberikan informasi yang jelas dan spesifik jika mereka bertanya, jangan berikan jawaban yang menggantung atau menerawang karena justru akan memicu rasa penasarannya. Jangan lupa, Anda adalah model mereka, jika tidak ingin mereka menjadi perokok, maka Anda pun jangan merokok.
Kesimpulannya, dengan berupaya bersikap responsif mendengarkan perasaan mereka (remaja), bekerja sama mencari penyelesaian masalah, mendukung mimpi dan harapan mereka, Anda telah menyampaikan kepada putra putri Anda betapa setiap hari Anda menghormati, mencintai dan menghargai mereka. Dan mereka, yang merasa dihargai oleh Anda sebagai orang tuanya, akan lebih mudah untuk menghargai diri mereka sendiri. Mereka akan lebih mudah untuk bertanggung jawab terhadap pilihan mereka dan menghindarkan diri dari perilaku yang dapat menjerumuskan dan menghancurkan masa depan mereka. Itu semua karena ‘siapapun kita, anak ataupun orang tua, perlu untuk dihargai.

taken from kesrepro.info

My Hobby is Learning from Mistakes!

Dua puluh enam Agustus Dua ribu Sepuluh

Hari ini aku gak ngampus. Di rumah, bangun pagi trus sholat isya' dan tarawih. Semalem gak sempet soalnya tepar hasil muter-muter semarang seharian. Dilanjut sahur, sholat subuh trus ngaji, sampai jus 12 kalo gak salah (masih jauh ni, pingin khotam satu kali ramadhan ini, amin). Habis ngaji kucek-kucek, hadhod....minusku kambuh nih >.<

Agenda utama hari ini jemput adek di kosan, rencana berangkat sekitar jam sembilan or sepuluhan. Pagi bisa bantu-bantu ibuk, bersihin belakang, nata baju, bantu ngurus berkas kuliah bapak, nyapu, trus njahit sendal. Sambil sms sahabat lama nih, curhat soal cinta pertamanya, yang notabene kayak aku, serba goyah. Goyah yang mengombang-ambingkan kekuatan cinta pertama. Halah!

Selesai, mandi trus siap2 cabut. Use glasses, kaos tangan, siapin kontak plus stnk, bawa sepatu pdh adek di plastik, jaket, helm....lengkap! Berangkat deh....

Di jalan sempet bingung, mampir sekarang apa pas pulang ya....penjahit sepatunya di seberang jalan, pulangnya aja ah. Ngebut aku, pom bensin pertama terlewatkan. Isi bensin di pudak payung, cek! Jalan teruuuussss sampai sampangan belok kiri.

------------------------cerita dimulai-------------------------

Seingetku, dari sampangan ke jurusan tugu tuh lempeng aje kan. Nah, pas di kali banteng aku gak perhatiin aku ambil jurusan mana. Pas di Pamularsih, aku inget-inget kok kayaknya aku gak pernah lewat sini ya? (dasar pelupa!) Bentar....bentar, ini daerah mana nih? (cari tulisan) Hah!! Pamularsih?? Aku nyasar ya?? Emang ke Tugu lewat Pamularsih segala?? Wah...wah....nyasar nih!

Puter deh tu motor tercinta. Pelan-pelan sambil nginget-inget jalan. Aku tadi lewat man ya...? (bingung mo belok mana) Oh....gang ini ni yang bikin nyasar. Ikut dulu ah.... (baca tulisan) jalan pusponjolo utara. Hah? Aku nyasar sampai pusponjolo? Itu kan rumahnya Om dulu, kayaknya aku pernah lewat kali besar sebelah kiri jalan ini deh. (gak ada hubungannya ma kesasar). Lanjuuuut..... Hadhuh, ini daerah mana sih? Semakin aneh aja?? Apa puter lagi ya? (cari jalan buat muter) halah, kebablasen. (cari lampu bang jo) Nah. pas merah nih....bisa muter sini.

(lampu ijo) Dengan santai (tanpa perhatiin rambu sebelumnya dan gak liad ada pos polisi segedhe rumah di pinggir jalan) puter motor, hampir nabrak taxi, hehe. (masih jalan dengan tenang) Liad spion ah, ada polisi pake motor bebek. Semakin lama deketin aku, mepet trus....si polisi bilang:

"Minggir dulu, Mbak..."

(minggir) "Ya, Pak?"

"Jalannya dong, Mbak...."

"Ya? Kenapa, Pak?" (polos banget! Tanpa dosa)

"Coba liad surat-suratnya!"

"Oh, iya. Ini, Pak"

"Ayo, Mbak... Ikut kembali dulu ke sana"

"Baik, Pak"
helehhhh............gak boleh puter ya? (baru sadar) Geblek, kok aku gak liat rambunya si?? Duh, ini bener gak ya jalan balik ke pos polisi yang tadi? Pak polisi cepet banget si? Aku gak ditungguin tar ilang lagi mbuh lho ya.... (sambil cari-cari bangjo) Oh bener ding, ni ketemu bangjonya.

Di pos polisi.
"Mbak tau gak salahnya apa?"

"Gak boleh muter ya, Pak"

"Iya, Mbak. Tuh ada rambunya"

Pak yang satunya.

"Mbak dari mana to?"

"Dari Ungaran, Pak" (mulai wajah memelas)

"Mau ke mana?"

"Mau ke Tugu, Pak....jemput adek kuliah di sana. Tadi tiba-tiba nyasar ke Pamularsih trus tau-tau sampai sini deh. Nah tadi saya mau balik biar gak bingung jalannya, saya gak liad rambu gak boleh puter e, Pak"

pak Polisi jelasin panjang lebar deh, nunjukin peraturan, biaya tilang maksimal, ambil surat tilang, njelasin prosedur ke pengadilan, dan "alternatif pertolonga".

"Aduh, 500ribu? Mahal banget ya, Pak? Gak punya uang saya...." (senyum melas....semelas-melasnya)

"Iya, Mbak. Itu denda maksimal. Mbak bisa milih diselesaiin di sini apa di sana."

"Di sini aja deh, Pak"

"Oke. Mbak mau nitip berapa?"

"Saya sih cuma bawa uang 50ribu, Pak" (tanpa pikir panjang, daripada kurang dan bla bla bla, selak panik)

"Yaudah, Mbak. Sini tanda tangan sebelah sini."

(tanda tangan) "Trus saya masih ngurus di pengadilan ya, Pak" (muka polos, lugu, jujur, gak tau apa-apa)

(pak polisi berdua serempak) "Udah gak, Mbak. Kan dibantu di sini"

"Oh gitu." (liat surat yang tadi ditandatangani-baca surat tilang.red) "Saya gak dapat ini, Pak?"

"Boleh, Mbak...tapi sim saya bawa trus Mbak ngurus di sana" (senyum mainin)

"Oh gitu, hehe. Gak jadi ding, Pak" (inosen banget!) "Udah ya, Pak? Makasih banget ya?

"Iya, Mbak. Lurus aja sampai kali banteng, Mbak. Udah pernah ke Tugu kan?"

"Oh, iya makasih Pak."

"Ayo, Mbak...cepetan saya sebrangin"


-----------------------------------------anggap selesai---------------------------------



byuh, gapapa deh 50ribu. Penting aku selamet. Tancap gas......ih. Iya sampai kalibanteng. (tanpa mikir, kalo bener mpe kalibanteng, berarti tadi lo gak nyasar, Fit)

Di kalibanteng, muter. Eh, aku ambil jurusan mana nih yang ke Tugu. Dapat bangjo, telpon adek ah! "Dek, Tugu dari kalibanteng ambil jurusan mana?" "Jakarta"

Sip! Walaupun pake muter siliwangi-tugu dua kali (tanpa malu ma polisi dan masih aja gak liad rambu gak boleh puter). Nah, ini pasti bener nih (baca jurusan-jakarta). Ni, jurusan Tugu tu mesti bareng ma mobil gedhe-gedhe kayak gini. (jadi gak liad kanan kiri, gak sadar kalo pake lewat pamularsih dan akhirnya nganggep diri sendiri nyasar gara-gara gak bareng mobil gedhe-gedhe dari pelabuhan, dudul!)

Udah lewat IAIN sampangan, RS Tugu, nah gak mungkin salah. Jalan terus, setiap habis shelter brt perhatikan belokan unnes. Belom ketemu juga.

Eh, ada Mbak pakai jas unnes, kejar ah. wus...wus...wus......ilang! Hadheh, mobil-mobil ini nysahin juga. Pelan-pelan ah.... Akhirnya, ni dia gangnya.

Ketemu gang setelah di klakson trans semarang. Sebel! Padahal udah nyalain rating kiri. Sampai di gang kosnya adek, halah jalannya lagi dibenerin. Puter deh lewat jalan belakang. Alhamdulillah, sampai. Mo sholat di kosan adek, lupa! Kosan cowok, mana ada mukena.....dodol! Yaudah langsung pulang. Mampir Luwes, santana, pasar babadan. cek..cek...cek!



Ini tadi cuma sekali kisah yang nunjukin kalo aku, seringnya belajar dari kesalahan. Kalo gak gini aku gak akan belajar lengkap dan teliti dan inget sampai lama. Aku sendiri juga gak ngerti kenapa harus kayak gitu. Kalau gak gitu biasanya aku tau dari sok tau, trus tau kalo sok tauku itu salah, trus tau deh mana yang bener. Tapi setelah aku pikir lagi, cara ini lebih mengena. Kesannya kita bener-bener belajar sendiri. Entah kenapa aku seperti ini, tak tahu. Kalau dikasih tau sebelumnya, aku jadi cenderung saklek, gak mau mikir, jagakke, asal terima jadi, dan cepet lupa. Hufh.....how do i change it?
Kayak pas aku baca kespro kemaren, aku merenung. Selama ini aku cari-cari, kenapa sih aku kayak gini? Apa yang salah dari pendidikan bapak ibuk??
Dan aku temukan jawabannya. Ya itu tadi, gak jauh beda. Selengkapnya perasaanku tergambarkan di postingan selanjutnya. Bagus lhoh.... Selamat membaca :)

Selasa, 24 Agustus 2010

Pamitan Ke Kos

Bapak, Ibuk......
Aku sama adek pamit, mau berangkat ke kos.
Kegiatan kuliah belum aktif sepenuhnya jadi mungkin bakal sering pulang.


Sebelumnya, terimkasih....akhirnya udah diijinin ngekos. Aku tau, Bapak Ibuk khawatir melepas kami karena pergaulan yang semakin bebas. Uang juga semakin banyak keluar. Mungkin kondisi yang tidak banyak mendukung dan tekanan dari sana sini memberatkan hati Bapak Ibuk untuk keputusan ini.


Tadi pagi adek bilang, katanya malah pingin lajo aja. Tak pikir, mending dijalanin dulu sebulan. Eeee, katanya malem ini malah gelisah tanpa sebab. Aku sendiri juga belim bisa mengidentifikasi apa sebabnya. Dia sendiri juga. Semoga ditenangkan dan ditunjukkan jalan terbaik, amin.


Aku sendiri mantep tetep kos, walau mungkin juga sering-sering pulang. Jadwal kuliah kalo udah sibuk dan tugas menumpuk, kuliah jadi tidak bisa diganggu gugat. Hidup serasa hanya untuk belajar (lebay!). Jadi, aku tetep ngekos aja.


Saat ini di kampus, aku belum aktif organisasi dan aku ragu apa aku mampu kalo terjun. Aku masih merasa ngoyo ngikuti kuliah, selain itu, dari pada ngurusi organisasi kampus, aku pingin cari penghasilan sendiri aja. Kemarin sempet si pingin ngisi exkul PMR di salah satu SMK. Rencananya barengan ma temen SMA yang mantan PMR, kan aku gak ada tuh basok PMR tapi aku dapat tawaran di kespronya. Selain itu juga, aku pingin nglanjutin les Inggris kalo udah punya uang sendiri.


Melihat seperti ini kenyataannya, aku masih belum berani mewujudkan. Aku....masih butuh kendaraan unutk wira-wiri dan entah mengapa barang satu itu susah sekali keluar. Aku tau maksudnya baik tapi aku juga butuh belajar. Yah, memang bukan alasan dan mungkin aku yang kurang usaha atau terlalu mengeluh.


Aku belum ingin berhenti di sini, aku masih ingin berusaha mewujudkan mimpi-mimpi itu.


Bapak Ibuk, aku mohon kepercayaan, pantauan, dan teguran. Aku gak bakal aneh di tanah orang. Aku berangkat dengan niat belajar. Paling ni kegiatanku.........



kalo gak ya gini ni...........


ya, gini ni....... Jadi, jangan mikir yang macem-macem ya, Buk, Pak... Kalo stress, paling shopping sama temen cewek, rame-rame dan murah meriah.
Masalah asmara, sekarang udah aku blak-blakin. Masih bingung juga sih, diblak-blakin malah disuruh temenan. Padahal aku udah cerita yang lebih dari temen. Yah, semoga itu cuma antisipasi biar aku gak nekat, amin.


Aku tau gak mudah percaya ma aku karena beberapa waktu yang lalu aku pernah ngecewain. Aku ingin memulai lembaran baru yang pasti tak mudah. Hanya bisa berusaha dan berdoa.

Jumat, 20 Agustus 2010

Cerita Lama


zakumi








hiks...hiks.......
sedihnya kalo liat poto ni, boneka kecil si....beli lagi juga bisa tapiii.............ak maunya yg itu....susah kan?!
makanyaa.....jangan diliatin ke orang2 tah.........pada pingin tar......














bener kan, pada pingin.........
iya kalo yg pingin ntu anak gedhe, ak masi tega gk kasiii.......
lah nni, adek kecil!
masak iya ak kalah ama adek??















udah berlalu, ya udah.
ak cuma pingin beli sekali.
kalo ilang, yaudah.
barang nni gk pnting2 amir buat ak maka dr itu ak gk mau beli lagi walopun uangnya ada.
seneng deh ud pernah punya...






zakumi kuuu..........
thx udah nemenin bobokku meski cuma semalem
thx udah nemenin si bona putih di kamar pas ak tinggal ke ketileng

sekarang,
tugas kamu nemenin d Fahmi
baik2 y d sana....

kpn2 kita ketemu.
love u.