Selasa, 06 September 2011

Dalam rangka Nuzulul Qur'an dan HUT ke-64 RI

Kerinduan Akan Sentuhan-Nya

Brrrrrr..... Dingin selalu terasa di pagi hari, di desa asri ku ini. Namun tak juga berhasil mengurungkan niatku menulis tentang sedikit pengalaman membaca. Pagi ini baru saja terdengar pengumuman bahwa warga diharuskan memasang bendera merah putih di halaman rumah, menyongsonh HUT ke-66 RI. Mungkin juga di beberapa situs jejaring sosial sedang ramai membicarakan tentang perayaan hari pramuka. Namun aku masih betah duduk bersila di bangku yang terletak di belakang rumahku, sambil menulis tentang isi hati.
Teman, perlu kamu tahu, aku ini muslimah tapi tak jarang jauh dari agama. Karena itu, setelah membaca sedikit dari buku Lentera Hati karangan Bapak Quraish Shihab, aku begitu terpesona. Aku merasa mendapatkan kembali sentuhan-sentuhan yang hilang – atau mungkin kuabaikan – hingga aku putuskan untuk menulis ini. Karena sejauh apapun kita tahu bila tidak diamalkan maka akan menjadi hal yang percuma.
Ada beberapa hal menakjubkan yang kutangkap dalam buku ini. Seperti sebuah pembuktian bahwa belajar setinggi langit itu memang perlu. Kelak, ilmu itu apabila tidak didalami dengan sabar dan teliti akan memunulkan bamyak aliran dengan dasarnya sendiri-sendiri, dan akan selalu butuh penengah, yaitu sang ahli. Seperti kisah sederhana di cartoon avatar, Teman. Aku sangat setuju dengan itu.

Yang pertama kudapati adalah betapa wahyu terakhir yang diberikan kepada Nabi saw memiliki arti tersirat yang sangat dalam berdasarkan tafsir oleh Bapak Quraish. Mulai dari perbedaan kata “kusempurnakan” yang berarti adalah kumpulan sesuatu yang telah sempurna dan genap dalam satu wadah, yaitu syariat agama islam, dengan kata “kucukupkan” yang berarti kumpulan sesuatu yang tidak sempurna namun bila dikumpulkan menjadi satu akan sempurna, yaitu nikmat Allah. Di sini tergambar jelas bahwa hanya islam lah yang memiliki syariat paling lengkap, aturan hidup yang sangat detail. Dan islam lah yang akan menjadikan nikmat-nikmat yang dicukupkan oleh Allah itu menjadi sebuah kesempurnaan tiada tara.
Adalah sifat manusia yang tak pernah puas dan merasa cukup atas nikmat yang diberikan Allah, namun dengan landasan syariat agama islam maka seberapapun nikmat itu apabila disyukuri, maka akan terasa sempurna.

Kedua tentang beberapa tipe manusia dalam menjalani ibadah. Ada 4 tipe. Yang pertama adalah pedagang, kedua budak, ketiga robot dan keempat adalah arif. Jiwa pedagang menjalankan ibadah dengan dalih bersakit-sakit dahulu di dunia, bersenang-senang kemudian di akhirat. Dia rela menukar kebahagiaan di dunia dengan perjuangan beribadah supaya nikmatnya di akhirat tidak terkurangi.
Jiwa budak menjalankan ibadah dengan rasa takut dan tunduk yang teramat sangat. Bahwa dia tak berarti apa-apa tanpa petunjuk dan anugrah dari Sang Khalik. Dia beribadah dengan segala rasa takut dan rendah diri, barangkali mengingat keberadaan surga dan nerakan di alam kekal abadi.
Sedangkan jiwa robot, beribadah hanya seperti rutinitas, tanpa ia paham arti sebenarnya, dibalik kewajiban yang dijadikannya sebagai rutinitas itu. Dan jiwa yang arif, beribadah atas dasar bersyukur kepada Allah swt karena nikmat yang diberikannya tak kunjung habis. Rasa syukur ini seperti arti kata din yang tidak jauh maknanya dari dain. Bila din adalah agama atau penyerahan, maka dain adalah hutang. Si arif ini beribadah karena hanya dengan itu dia dapat membayar segala nikmat yang Allah berikan, yang tak terperi banyaknya, dan bahwa Allah tidak butuh atas pembayaran itu namun Allah menerimanya dalam bentuk rasa syukur. Maka, selalu tingkatkanlah ibadah kita, Teman. Jangan lupa untuk selalu bersyukur.

Ketiga tentang sesuatu yang terlewat dari pelajaran syahadat kita. Bahwa syahadat tidak hanya diucapkan sebagai tanda ia masuk islam. Dengan mengucapkan syahadat, si penguap menyadari adanya tiga pihak yaitu Allah swt, dirinya dan para hadirin yang melihat penyaksiannya. Di samping itu, pengucapan syahadat akan menghadirkan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dan yang terlewat adalah bahwa syahadat tidak berhenti di situ saja. Syahadat harus dijiwai dan diamalakan, menjadi dasar di setiap langkah kita bahwa kehendak harus disesuaikan dengan kemampuan, bicara harus disesuaikan dengan pengetahuan.

Keempat, kudapati sesuatu tentang perdamaian, yang selama ini ku impikan, yang selama ini hampir menjerumuskanku ke dalam seorang pemimpi yang terancam tak dapat meraih mimpi-mimpiku. Aku takjub dan terpana ketika Bapak Quraish mengatakan ada sebuah doa yang selalu diajarkan ketika sesuadah sholat, yaitu doa perdamaian. Allah ternyata telah akan mengabulkan mimpiku sebelum aku menyadari bahwa aku telah memintanya. Subhanallah, betapa banyak yang belum aku ketahui.

Dan yang kelima kudapati tentang antara takbir dengan syahadat yang diuraikan oleh Bapak Quraish dengan sentuhan nasionalisme dan patriotisme. Aku adalah alumni Peleton Inti di sebuah sma. Meski tak banyak kontribusi yang bisa kuberikan namun baru kusadari bahwa di balik nasionalisme dan patriotisme para pahlawan yang terdahulu terselip takbir dan syahadat yang tidak hanya sekedar dihayati namun juga menjadi tumpuan usaha serta penyerahan diri ketika melihat kenyataan bahwa tanah airnya, tempat anak cucu mereka akan hidup kelak sedang dijajah. Maka, dengan menyaksikan Allah berada di pihaknya, serta penghayatan dari kedua lafal tersebut, hadirlah usaha yang tak kenal lelah untuk merebut kemerdekaan. Subhanallah.....
Akhirnya, Saya ucapkan selamat hari kemerdekaan 17 agustus 2011! Hehe ^^9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar