Jumat, 20 Januari 2012

Kisah cinta, oh cinta

Apa kalian tau, apa beda hak kita, Perempuan, ketika berstatus single dengan ketika kita berstatus in a relationship atau yang sering kita sebut “berpacaran”. Mungkin beberapa diantara Pembaca akan beranggapan, status ini tidak ada bedanya, asal kita bertanggung jawab dan tau konsekuensi apa saja yang akan dihadapi. Mungkin, sebagian dari Pembaca berkomentar, pacaran lebih seru, bisa tau karakteristik orang lain, punya tempat berbagi dan meminta pendapat, ditemeni kemanapun, dan kelebihan – kelebihan lain dari status ini yang dapat dilihat kasat mata.

Bebas. Ya, itulah yang kita miliki ketika masih sendiri alias single. Seringkali kebebasan ini malah menjerumuskan kita ke kesepian. Mungkin, akibat perkembangan IPTEK sehingga hakekat sebagai manusia sosial berkurang. Mungkin juga memang seperti itulah keadaannya.
Padahal, banyak yang bisa kita dapatkan ketika bebas. Seperti lagu dari Oppy Andarista:
“aku baik baik saja
menikmati hidup yang aku punya
hidupku sangat sempurna
I'm single and very happy
mengejar mimpi mimpi indah
bebas lakukan yang aku suka
berteman dengan siapa saja
I'm single and very happy”
Bebas, tidak seharusnya mengikat pikiran kita atau menjadikan kita seseorang yang closed-minded (picik). Justru karena bebas, seharusnya di situ lah tempat kita belajar banyak tentang watak, sikap, dan perilaku sesama. Namun, pergeseran jaman menunjukkan, manusia generasi sekarang ini lebih sulit menentukan sikap. Entah karena pasif yang berlebihan, pergaulan yang terlalu dekat, atau malah malas berpikir panjang dan hanya mau yang instan?
Sulit memang, tetap memegang prinsip yang dibawa dari keluarga ke dunia luar yang notabene berkembang lebih liberal dan radikal. Oke, kembali ke pikiran bebas. Bebas di sini tak hanya dapat digunakan untuk menjadi pribadi yang lebih fleksibel, handal, dan tangguh menghadapi dunia modern. Yang terpenting dari bebas ini adalah ketika kita dihadapkan pada pilihan dan keputusan hanya ada di tangan  kita. Di sini lah, saya menemukan perbedaan dari kedua status yang saya sebutkan tadi.
Bagi Perempuan yang bebas, mereka tidak terikat bila akan memilih sesuatu yang baru. Tidak harus memikirkan orang lain ketika harus menentukan sikap yang ekstrim. Penjelasan saja, saya kira sudah cukup bagi pihak – pihak yang mungkin mempertanyakan penyimpangan sikap yang Pembaca ambil. Dan, dalam pembicaraan kita kali ini, Pembaca akan bebas memilih siapapun yang akan menjadi pendamping hidup Pembaca, ketika pilihan yang Pembaca ambil adalah single. Status ini akan mengurangi efek sakit hati dari pihak ketiga (baca: ditolak). Status ini juga yang akan mendorong Anda untuk lebih obyektif dalam memilih, demi kebaikan masa depan Anda tentunya.
Berbeda ketika kita berstatus in a relationship. Terikat. Itu yang pertama kali muncul dalam benak saya. Komunikasi harus lebih intens untuk sekedar membedakan bahwa doi adalah pacar, bukan sekedar teman atau sahabat. Keputusan yang dapat kita ambil pun akan lebih sempit, karena, tentu saja, kita harus menghormati dan menjaga perasaan si doi sebagai pacar. Pendapat, argument, bahkan pola pikir, lama kelamaan akan terpengaruh. Meskipun proses ini seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang, lebih tepatnya yaitu oleh Perempuan.
Bagian yang paling berat, yaitu ketika kita harus memilih. Ya, proses memilih pilihan terpenting dalam hidup ini seringkali kita tempatkan pada pemilihan pendamping hidup. Coba direnungkan kembali. Bayangkan ketika pacar, bukanlah seseorang yang kita harapkan. Bukan tidak mungkin kan ini terjadi? Lalu, pikirkan ketika kita memasuki proses memilih itu. Apakah akan tetap memilih sang pacar? Apakah melarikan diri dengan memilih single, lagi? Hanya Anda yang dapat menjawab.
Setau saya, bahwa status pacaran ini sama saja curian start. Start dimana seharusnya kita masih berpikir obyektif namun menjadi subyektif karena pacar. Start dimana kita dapat memanfaatkan kesempatan lebih untuk birul walidain namun kita tertahan dengan “pilihan” yang sudah kita ambil. Start dimana seharusnya kita tidak memikul beban namun harus kita pertahankan karena perasaan. Start dimana kita seharusnya bebas memilih namun terbatas karena sebuah hubungan yang terjalin.
Tidakkah Pembaca sekalian, para Perempuan, merasa kecolongan? Akankah Anda semua menghabiskan banyak waktu, tenaga, pikiran, untuk para pencuri hati itu?
Jika rasa sayang adalah segalanya, saya percaya, masa depan idaman Pembaca sekalian lebih menggiurkan dari pada hanya sekedar emosi sesaat. Mungkin sebutan tersebut sedikit berpleonasme, bagaimana dengan kesenangan duniawi? Bahkan, mungkin, pilihan rasa sayang tadi belum tentu dapat kita wariskan ke anak cucu dibandingkan dengan masa depan impian kita.
Hidup adalah pilihan, Kawan. Berpikirlah tidak hanya dua, namun seribu kali untuk menanyakan ulang (baca: meragukan) hukum – hukum islam. Bagi para muslimah yang secara tidak sengaja membaca coretan saya ini, tambahkanlah volume kesabaran dalam diri Anda. Perkokohlah dinding pergaulan Anda dengan batu bata dan semen terbaik di dunia ini. Jangan goyah, dukungan untuk Anda akan selalu ada J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar