Kedua tangan ini, dulu adalah kebahagiaan ayah dan bunda
Karena lengkap dan sempurnanya
Kedua tangan ini kemudian mulai belajar
Merasakan dingin, hangat
Menyentuh, menggenggam
Membuang dan menjumput benda
Semakin besar, tangan ini semakin pandai
Dia bisa menulis, menggambar, bahkan melukis
Dia juga mulai bertepuk, memainkan jari (suit)
Kadang, dia tertarik dan kemudian membantu bunda memotong sayur
Atau mengambilkan perkakas ayah saat membenahi sepeda
Tak jarang juga, dia usil ikut ikut an belajar dengan kakak, menggelitik adik
atau temannya
Semakin dewasa pemiliknya,
Rasanya semakin banyak saja dosa si tangan pula
Mencontek kertas ulangan teman, mengambil uang jajan di tas bunda
Menyembunyikan jajan kakak, merusak mainan adik
Astaghfirullah....
Hari berganti dan tangan tangan ini pun menambah keterampilannya
Dia mulai terpapar dengan gadget gadget baru
Handphone, komputer, touchscreen gadget, dan kawan kawan
Tangan ini mulai aktif berproduksi
Tulisan tulisan, bahan bercanda, memori, gambar
Dia tak boleh capek menulis laporan
Tak boleh mengeluh atas tugas rumah yang diberikan
Dan dia mulai diberi kepercayaan
Mulai dari menolong orang terluka, mengobati yangsakit, merawat yang
lemah
Sampai dengan membantu melahirkan...
Betapa mulia keberadaanmu wahai, tangan kanan dan kiriku
Aku sangat bersyukur atas anugrah Tuhan yang satu ini
Suatu hari, tangan tangan ini melihat tatapan tulus dari mata pemiliknya
Dan sorot mata itu berkata,
“dulu kita belajar bersama – sama. Sekarang, saatnya kita berbakti pada ayah bunda. Kita juga akan berusaha menggapai mimpi mimpi kita.... Mulai dari menolong orang terluka, mengobati yangsakit, merawat yang lemah sampai dengan membantu melahirkan. Ke depan, kita akan merawat keluarga....suami, dan anak – anak. Semoga dengan ini, kita akan lebih banyak berbuat kebaikan dan lupa atau tidak sempat berbuat maksiat, amin. Trimakasih, tanganku....”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar