Senin, 31 Januari 2011

Tentang PEREMPUAN

Kami ada karena kehendakNya.

Ketika aku kecil, aku belum begitu paham perbedaan lelaki dan perempuan. Aku hanya tau sebatas perbedaan fisik, sifat, dan kewajiban yang harus dijalankan. Seiring jalannya waktu -- lagi-lagi waktu, besar sekali perannya -- seiring kupahami sedikit demi sedikit seluk beluk kehidupan, kupahami pula arti penting hadirnya perempuan.

Allah SWT menciptakan perempuan dengan indah di tiap sisinya. Diciptakan dari tulang rusuk lelaki yang kelak akan dikuatkannya menjalankan tugas seorang suami. Perempuan diciptakan dengan halus dan teliti, sebagaimana perangainya kemudian di dunia. Perempuan diberikan tugas penting yaitu melayani suami, mengasuh anak serta mengurusi rumah tangga. Tanpa disadari tugas-tugas ini menjadikan perempuan sebagai ujung tombak perkembangan zaman.

Di masa kenabian, perempuan sering ditindas, direndahkan martabatnya, bahkan disamakan dengan harta benda kekayaan lainnya yang dengan mudah dibeli atau ditukar. Tidak hanya di Arab namun kebudayaan lama Jawa juga demikian, yang menyebut perempuan hanya "konco wingking". Namun di lain pihak tetap ada perempuan-perempuan yang peduli terhadap kaumnya serta memperjuangkan posisi perempuan bahwa perempuan dan lelaki mempunyai kedudukan yang sama. Ada banyak perempuan yang menyebabkan turunnya ayat-ayat dalam al qur'an. Di Indonesia terdapat pula pahlwan-pahlawan perempuan yang menjadi pelopor terbukanya kesempatan belajar bagi perempuan.

Perempuan begitu indahnya hingga seringkali dijadikan jalan bagi syetan untuk mencari kemaksyiatan. Berbagai cara dilakukan supaya tujuan utamanya diraih, yakni mengganggu keturunan Adam. Seperti perkembangan zaman yang kita alami. Dulu, perempuan hanya bisa diatur, sangat sedikit haknya, bahkan hak unruk diri sendiri, dijodohkan, dianggap sebagai harta, budak, dan lain-lain. Sekarang, ketika zaman sudah modern, segala teknologi serba canggih, dimana perempuan juga sudah setara dengan lelaki, maka kesetaraan ini sering disalahartikan serta disalahgunakan. Hasilnya, lihatlah! Sex bebas semakin merajalela, pornografi tak tercegah lagi, perceraian, nikah siri, dan poligami. Semua itu membuat dunia ini semakin penuh saja dengan masalah duniawi. Padahal, masalah ini tak hanya akan jadi sebuah masalah saja yang ketika ditemukan solusinya maka semua selesai. Salah besar!

Tengoklah lebih dalam di setiap masalah di atas. Ada 2 poin yang terpenting. Poin pertama pada dasarnya inti permasalahan adalah adanya perempuan yang menyalah gunakan kebebasannya dan yang kedua yaitu efek dari perempuan tersebut yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap generasi penerus. Bukan berarti menyalahkan perempuan saja. Di sini sangat banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut seperti: pendidikan, tingkat ekonomi, kebudayaan, gender, dan lain-lain. Namun, ada baiknya bila segala sesuatu itu dimulai dari koreksi diri. Bukankah perubahan dunia juga berawal dari perubahan individu?

Setiap perempuan hendaknya mampu menempatkan dirinya di posisi yang tepat. Hal ini akan terwujud bila pengetahuannya tercukupi akan segala bidang kehidupan sehingga dia mampu melihat secara obyektif, bukan subyektif seperti yang dikatakan perasaannya. Kesalahan-kesalahan yang terjadi akibat kesetaraan gender seringkali membuat perempuan lupa diri, bagai kacang lupa pada kulitnya. Seperti pada masalah sex bebas. Perempuan yang melakukan sex bebas adalah perempuan yang lepas dari batasan bahwa konsekuensi  melakukan sex adalah kehamilan. Disamping sex bebas dapat dicegah namun resiko yang lain tetap dihadapi oleh seorang perempuan. Bukankah sex adalah ritual yang sakral dalam rangka membuat keturunan? Bukankah sex adalah sebuah proses panjang yang tidak hanya berakhir dalam semalam? Pertanyaan-pertanyaan ini akan tetap menjadi pertanyaan retoris bagi pelaku sex bebas meskipun posisinya telah sama bebas dengan lelaki.

Yang kedua, yaitu efek terhadap generasi penerus. Tugas mengasuh anak adalah tugas perempuan meski bukan sepenuhnya begitu. Pada kenyataannya, perempuanlah yang mengandung anaknya selama 9 bulan. Perempuanlah yang menyusui anaknya dengan darah dari tubuhnya. Maka secara otomatis akan terbentuk kontak batin melalui kasih sayang diantaranya. Masalah utama yang paling jelas di sini yaitu perceraian. Perempuan zaman modern ini sungguh sangat egois hingga darah dagingnya sendiri ia korbankan demi mendapat kebebasannya kembali. Bahkan jalan yang ditempuh adalah jalan yang paling dibenci oleh Allah SWT sekalipun. Tidakkah mereka berpikir tentang sel calon pembentuk anaknya? Tidakkah mereka berpikir tentang perkembangannya kelak bila orang tuanya berpisah? Anak tak kan mampu bila disuruh memilih ibu atau bapak karena orang tuanya tersebut merupakan belahan jiwa antara satu dan yang lain. Anak sendiri juga tak kan hadir bila tak ada persatuan dari mereka.

Jangan salahkan anak bila dia terjerumus di jalan yang salah. Jangan salahkan anak bila bangsa ini kemudian terjebak dalam kepurukan yang sama. Lalu salahkan siapa???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar