Selasa, 06 September 2011

No Regret

Don't wanna be like him
Starts everything hardly and make it complex
I really don't want it!
But it's the fact

Do you know, Dad?
I am so empty
I think i loose my times to speak to them sincerely



Unfortunately....
I can't strat speak simpler
You're image makes me forced
Like, "I have to be perfect infront of you"

Dad......
I'm so sorry that i've hurt you many times
I'm sorry that i may not be as perfect as what you want

I don't blame it on anyone, and i can't
I just wanna find my own self
To be better for my future

Love you, Dad....
I know you want the best for me

It must not be the thing that you want
I'm asking you to fly me by my wings
With your prays for me, i believe
I'm finding my beautiful world

Tokoh Kartun Ku ^^,

Tiba-tiba pingin nulis tentang tokoh kartun yang aku suka. Kemarin habis nonton kartun Tinkerbell, suka deh. Dia lucu, sosok pekerja keras, tidak mengenal lelah, pejuang, dan inovator. Sifat - sifat baik yang sangat menonjol dari dirinya.

Menurut blog yang kubaca, Tinkerbell lahir dari bunga Lily dan terbang hingga ke dunia peri. Inilah yang membuat dia bisa menjadi peri. Kemampuan dasar yang dia miliki adalah Tinker, seorang penemu. Kawanan peri yang membuat penemuan untuk menunjang kegiatan seluruh peri dari kemampuan lain, seperti peri bunga, angin, dan lain - lain. Pada Tinkerbell 1, dia tidak menerima bakat alaminya ini. Tetapi, pada akhirnya ia menyadari bahwa itulah potensinya. Tinkerbell mengembangkannya dengan baik. Ia juga peri yang ceria.

Keinget juga titipan ku ma seorang teman, sebuah mainan Tinkerbell. Masih Dia simpen gak ya? hehe. Semoga ada kesempatan untuk jawabannya...

Tinkerbell, here you are ....








Oke, meski sekarang Tink udah makin tinggi aja pamornya di Walt Disney....aku tetep lebih suka Tink as a Peter Pan's Friend :) Suka semua deh....hehe

The next is Cardcaptor Sakura. Hyuuuuh...... Aku suka banggets sama kartun yang satu ini. Kartun ini berkisah tentang Sakura Kinomoto, yang dalam versi animasinya, dikisahkan secara tidak sengaja membuka sebuah buku berisi Clow Card. Saat buku itu terbuka, semua kartu-kartu ciptaan Clow Reed sebanyak 52 lembar (17 lembar dalam manga) berhamburan ke seluruh penjuru kota Tomoeda. Adalah tugas dari Sakura untuk mengumpulkan kembali kartu-kartu itu dibantu makhluk bernama Cerberus, yang muncul bersamaan saat buku itu terbuka. Seru pokoknya..... *.* Selain karena setiap episode pasti selesai, kartun ini menggambarkan petualangan buatku.



Nii....card card yang udah berhasil ditangkap Sakura. Walaupun Card ini ditangkap tapi gambarnya tetep senyum ya, hehe. Unik. Lucu bukan? Harusnya ditangkap kan sedih sih???
Masih ingat kah dengan teman-teman Sakura? Yap! Tomoyo (Tomoyo Daidouji) dan Li Syaoran.
Tomoyo adalah sepupu, sahabat sekaligus teman sekelas Sakura. Berasal dari keluarga kaya raya, pemilik perusahaan Doidouji. Dia sangat terobsesi untuk merekam aksi-aksi Sakura saat menangkap kartu dengan memakai kostum buatannya. Aneh ya... Padahal cantikan Tomoyo tapi Dia malah ngefans ma Sakura. Haha. Kartun ngefans kartun ni jadinya :D



Li Syaoran sendiri yang pada awalnya bersaing dengan Sakura dalam mengumpulkan Clow Card, namun akhirnya justru jatuh cinta dengan Sakura.Teman sekelas Sakura yang berasal dari Hongkong. Ia bersaing dengan sakura untuk mengumpulkan kartu. Ia mempunyai kemampuan magis yang diturunkan dari orang tuanya. Dalam anime, ia mempunyai peran penting dalam mengumpulkan kartu Clow. Syaoran pada awalnya menyukai Yukito Tsukishiro karena tertarik oleh kekuatan magic yang dimilikinya. Akan tetapi seiring kebersamaanya dengan Sakura selama mengumpulkan kartu Clow, perasaan bencinya kepada sakura perlahan-lahan hilang dan lama-kelamaan ia mulai menyukai Sakura. So sweet nyaaa....... XD

Nii beberapa adegan mereka.....









Hehe.... Lucu yak! :) Love this cartoon so much. Pingin nonton lagi. Yang punya filmnya, boleh dong komen and share filmnya. Ditunggu ya, always :) To be continued.....

Dalam rangka Nuzulul Qur'an dan HUT ke-64 RI

Kerinduan Akan Sentuhan-Nya

Brrrrrr..... Dingin selalu terasa di pagi hari, di desa asri ku ini. Namun tak juga berhasil mengurungkan niatku menulis tentang sedikit pengalaman membaca. Pagi ini baru saja terdengar pengumuman bahwa warga diharuskan memasang bendera merah putih di halaman rumah, menyongsonh HUT ke-66 RI. Mungkin juga di beberapa situs jejaring sosial sedang ramai membicarakan tentang perayaan hari pramuka. Namun aku masih betah duduk bersila di bangku yang terletak di belakang rumahku, sambil menulis tentang isi hati.
Teman, perlu kamu tahu, aku ini muslimah tapi tak jarang jauh dari agama. Karena itu, setelah membaca sedikit dari buku Lentera Hati karangan Bapak Quraish Shihab, aku begitu terpesona. Aku merasa mendapatkan kembali sentuhan-sentuhan yang hilang – atau mungkin kuabaikan – hingga aku putuskan untuk menulis ini. Karena sejauh apapun kita tahu bila tidak diamalkan maka akan menjadi hal yang percuma.
Ada beberapa hal menakjubkan yang kutangkap dalam buku ini. Seperti sebuah pembuktian bahwa belajar setinggi langit itu memang perlu. Kelak, ilmu itu apabila tidak didalami dengan sabar dan teliti akan memunulkan bamyak aliran dengan dasarnya sendiri-sendiri, dan akan selalu butuh penengah, yaitu sang ahli. Seperti kisah sederhana di cartoon avatar, Teman. Aku sangat setuju dengan itu.

Yang pertama kudapati adalah betapa wahyu terakhir yang diberikan kepada Nabi saw memiliki arti tersirat yang sangat dalam berdasarkan tafsir oleh Bapak Quraish. Mulai dari perbedaan kata “kusempurnakan” yang berarti adalah kumpulan sesuatu yang telah sempurna dan genap dalam satu wadah, yaitu syariat agama islam, dengan kata “kucukupkan” yang berarti kumpulan sesuatu yang tidak sempurna namun bila dikumpulkan menjadi satu akan sempurna, yaitu nikmat Allah. Di sini tergambar jelas bahwa hanya islam lah yang memiliki syariat paling lengkap, aturan hidup yang sangat detail. Dan islam lah yang akan menjadikan nikmat-nikmat yang dicukupkan oleh Allah itu menjadi sebuah kesempurnaan tiada tara.
Adalah sifat manusia yang tak pernah puas dan merasa cukup atas nikmat yang diberikan Allah, namun dengan landasan syariat agama islam maka seberapapun nikmat itu apabila disyukuri, maka akan terasa sempurna.

Kedua tentang beberapa tipe manusia dalam menjalani ibadah. Ada 4 tipe. Yang pertama adalah pedagang, kedua budak, ketiga robot dan keempat adalah arif. Jiwa pedagang menjalankan ibadah dengan dalih bersakit-sakit dahulu di dunia, bersenang-senang kemudian di akhirat. Dia rela menukar kebahagiaan di dunia dengan perjuangan beribadah supaya nikmatnya di akhirat tidak terkurangi.
Jiwa budak menjalankan ibadah dengan rasa takut dan tunduk yang teramat sangat. Bahwa dia tak berarti apa-apa tanpa petunjuk dan anugrah dari Sang Khalik. Dia beribadah dengan segala rasa takut dan rendah diri, barangkali mengingat keberadaan surga dan nerakan di alam kekal abadi.
Sedangkan jiwa robot, beribadah hanya seperti rutinitas, tanpa ia paham arti sebenarnya, dibalik kewajiban yang dijadikannya sebagai rutinitas itu. Dan jiwa yang arif, beribadah atas dasar bersyukur kepada Allah swt karena nikmat yang diberikannya tak kunjung habis. Rasa syukur ini seperti arti kata din yang tidak jauh maknanya dari dain. Bila din adalah agama atau penyerahan, maka dain adalah hutang. Si arif ini beribadah karena hanya dengan itu dia dapat membayar segala nikmat yang Allah berikan, yang tak terperi banyaknya, dan bahwa Allah tidak butuh atas pembayaran itu namun Allah menerimanya dalam bentuk rasa syukur. Maka, selalu tingkatkanlah ibadah kita, Teman. Jangan lupa untuk selalu bersyukur.

Ketiga tentang sesuatu yang terlewat dari pelajaran syahadat kita. Bahwa syahadat tidak hanya diucapkan sebagai tanda ia masuk islam. Dengan mengucapkan syahadat, si penguap menyadari adanya tiga pihak yaitu Allah swt, dirinya dan para hadirin yang melihat penyaksiannya. Di samping itu, pengucapan syahadat akan menghadirkan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dan yang terlewat adalah bahwa syahadat tidak berhenti di situ saja. Syahadat harus dijiwai dan diamalakan, menjadi dasar di setiap langkah kita bahwa kehendak harus disesuaikan dengan kemampuan, bicara harus disesuaikan dengan pengetahuan.

Keempat, kudapati sesuatu tentang perdamaian, yang selama ini ku impikan, yang selama ini hampir menjerumuskanku ke dalam seorang pemimpi yang terancam tak dapat meraih mimpi-mimpiku. Aku takjub dan terpana ketika Bapak Quraish mengatakan ada sebuah doa yang selalu diajarkan ketika sesuadah sholat, yaitu doa perdamaian. Allah ternyata telah akan mengabulkan mimpiku sebelum aku menyadari bahwa aku telah memintanya. Subhanallah, betapa banyak yang belum aku ketahui.

Dan yang kelima kudapati tentang antara takbir dengan syahadat yang diuraikan oleh Bapak Quraish dengan sentuhan nasionalisme dan patriotisme. Aku adalah alumni Peleton Inti di sebuah sma. Meski tak banyak kontribusi yang bisa kuberikan namun baru kusadari bahwa di balik nasionalisme dan patriotisme para pahlawan yang terdahulu terselip takbir dan syahadat yang tidak hanya sekedar dihayati namun juga menjadi tumpuan usaha serta penyerahan diri ketika melihat kenyataan bahwa tanah airnya, tempat anak cucu mereka akan hidup kelak sedang dijajah. Maka, dengan menyaksikan Allah berada di pihaknya, serta penghayatan dari kedua lafal tersebut, hadirlah usaha yang tak kenal lelah untuk merebut kemerdekaan. Subhanallah.....
Akhirnya, Saya ucapkan selamat hari kemerdekaan 17 agustus 2011! Hehe ^^9

Me, again...

Start From: Who You Are
siapalah aku hingga kau sudi membaca coretan ini



Siapa aku? Hahaha. Aku bukan siapa-siapa, bagiku. Namun mungkin jawabannya akan berbeda bila yang memberikan adalah kedua orang tuaku, atau mungkin dari orang yang paling menyayangiku?

Terlepas dari itu, aku seorang gadis, suka sekali menganalisis sesuatu dari sudut pandangku sendiri, tentu saja dengan berbagai ilmu – yang mungkin tak ada artinya di mata cendekiawan – yang telah kudapat selama kurang lebih 15 tahun aku belajar di bangku sekolah. Selain itu, aku juga suka mempelajari sesuatu dari dalam diriku, melebihi sukaku mempelajari sesuatu di luar sana yang lebih besar, lebih menarik dan lebih nge-trand untuk dipelajari sekaligus diperbincangkan. Kalimat ini sedikit terdengar hiperbolis tapi dengan mengetahui aku juga sangat suka melakukan introspeksi diri, akan sedikit mengurangi hiper-nya.

Sudah cukup banyak lembar introspeksi yang kubuat, kuterapkan – karena sudah MERASA menerapkan – kemudian kubuang begitu saja. Tapi aku tetap suka introspeksi. Bagiku, ini seperti siasat mengetahui (analisa) kemampuan dan kekurangan diri sendiri. Biasanya setelah berintrosepksiria, aku segera menyusun atau sekedar mengoreksi tarjet-tarjetku, baik yang jangka pendek, maupun jangka panjang. Bukankah ini cara jitu menghadapi hidup? Hehe.

Dari sekian alasan aku menyukai introspeksi, yang pertama adalah karena yang tahu segala sesuatu tentang kamu, adalah dirimu sendiri. Namun alasan yang paling kusuka bukan itu. Aku tipe orang yang (menurutku) fleksibel. Aku selalu ingin membaur dengan lingkunganku, meski seringkali kulakukan dengan cara yang kurang tepat (tak kan kubilang salah, karena aku belum selesai belajar – menurut psikolog, hehe). Dengan begitu, praktis aku akan sering memberi kontribusi di lingkunganku dan kuusahakan bahwa kontribusi itu adalah yang baik. Dari sini, aku memahami bahwa kehadiran (penciptaan) seseorang (atau bahkan sebuah benda, tak bernyawa sekali pun) di muka bumi ini bukan tak ada artinya. Mulailah aku memahami peran, di mana seharusnya aku berkontribusi dalam wujud tindakan, atau sekedar nasihat kepada teman-teman di sekitarku.

Sejauh ini, kutemukan ada sedikit masalah dengan introspeksi dan juga analisa yang menjadi hobi serta tak pernah absen di waktu luangku. Bahkan, bila terlalu lama aku jauh dari mereka – biasanya sampai aku suntuk – aku pun rindu dengan waktu-waktu itu. Waktu di mana aku hanya bersama diriku, memutar kembali memori terakhir, mencari-cari masalah, menelusuri penyebab dan mulai lagi memahami peran untuk melakukan pemecahan, sedikit demi sedikit. Semua itu, selama ini, kulakukan oleh diri sendiri. Lalu suatu ketika, aku mendapati dalam beberapa episode dalam hidupku, beberapa kali aku gagal melancarkan taktik menghadapi hidupku. Di saat itu pula aku menyadari kodratku sebagai perempuan yang hidupnya dipenuhi dengan selalu berbagi.

Di sinilah muncul seorang teman – sahabat lebih tepatnya – karena tak banyak orang yang bisa menyisakan “jejaknya” dalam perjalan hidupku seperti yang dia lakukan selama ini. Tentang seorang sahabt ini, lagi-lagi aku enggan menguraikan artinya dalam hidupku, karena aku mungkin hanya akan melebih-lebihkan dan membuat dia tidak nyaman. Namun demikian, tetap akan kujelaskan satu hal yang menurutku sangat vital. “Mata kita sendiri tidak akan menjadikan kita berwawasan, tetap butuh mata orang lain.” Seperti itu kira-kira, judul sebuah bagian dari novel simple yang terakhir kubaca. Aku sangat suka kata-kata sederhana yang bermakna dalam itu. Bahwa kehadiran seseorang tempat berbagi, meminta pendapat, menanyakan solusi, bertukar pikiran dan mungkin lebih sering sebagai teman bercanda, adalah sangat berarti, especially when we are stuck.

Kembali ke diriku (aku memang suka membahas hal-hal tentang diriku sendiri, haha). Seperti gambaran peran di atas, di mana aku selalu ingin melebur. Apakah ada yang tahu efek sampingnya?

Sebenarnya sudah agak lama kusadari, aku menjadi seorang yang tertutup, tak banyak bicara kecuali dengan yang benar-benar dekat denganku (bahkan dengan yang dekat ini saja aku masih suka diam). Aku suka berkumpul dengan orang banyak, yang bertujuan tentunya, karena ini seperti belajar lebih besar tentang introspeksi. Menerapkannya bukan terhadap diri tapi pada sebuah kesatuan. Dari sini, aku seringkali menomorduakan kepentingan-kepentingan pribadiku. Hal ini tepat sekali seperti dugaan para pembaca, adalah karena betapa inginnya aku berkontribusi dengan sepenuh hati, jiwa dan raga bagi lingkunganku. Situasi seperti ini membuat semacam tumpukan di diriku dan lagi-lagi membuatku butuh suatu tempat untuk berbagi.

Ketika itu, sempat hilang arti sahabat dan aku hanya mencoba mengingat-ingat serta menapak tilas setiap perkataan, setiap semangat, setiap senyuman yang selalu ia coba berikan ketika aku butuh. Entah itu hanya tipuan atau dia jadikan aku mainan atau alat penelitian, aku TAK PEDULI! Dan ketika aku lelah sendiri, dengan bodohnya kuputuskan untuk menjalin relatinship dengan lawan jenis. Dari sini muncul beberapa konflik lagi, lebih kompleks tentunya, dan akan melengkapi kisah hidupku. Selamat menantikan kelanjutannya!

[Behind The Kitchen. August 14Th, 2011]

Pertanyaanku

MENULIS
August 14Th, 2011. 06:42 AM


Menggoreskan pena di atas kertas
Membiarkan tangan menari-nari
Melukis bentuk indah huruf abjad
Menyusun kata-kata hingga berarti

Di negeriku....
Dapat menulis merupakan indikator
Bahwa kemampuan rakyat telah meningkat

Kini, menulis....
Tak hanya itu
Bertukar informasi
Menumpahkan ide dan hobi
Menggambarkan hasil kerja panca indera
Bahkan sekedar menumpahkan isi hati

Namun, tak pernah ku tahu
Alasan pasti dari hal yang sering kutanyakan

Mengapa aku selalu menulis untuk diriku sendiri?
Kapan aku menulis untuk orang lain?
Pasti bukan karena tulisanku jelek bukan?


















Sambil lalu, tak kuhiraukan lagi
Tanyaku yang belum juga terpenuhi
Dengan sikap tak peduli
Aku menulis lagi

Sabtu, 13 Agustus 2011

Tentang Taurus

waaaaw........ ternyata indah banget. u know, this just give me some other powers that have been hiden for this time. oke, check this out.... ;)

from whoguides.com says that taurus is:
The Mesopotamians were the first to call the bull constellation as Gud Anna. It meant “Bull of Heaven.” Ancient bull images are also found in Spain and France. These images were made of bone, stone, and clay.

On the other hand, Babylonian astronomers believed Taurus was one of the oldest constellations in the sky. In the early Bronze and Chalcolithic Age, Taurus signaled the point of vernal equinox. During the vernal equinox of the 23rd century BC,  the Pleiades came closest to the sun. Taurus became very visible in the sky.  The Babylonians took that as proof of their belief.  They took down Taurus in the MUL.APIN as the “Heavenly Bull.” Its Akkadian name was Shur. Taurus was linked with Zeus in Greek mythology. When the Greek god kidnapped the Phoenician princess Europa, he took the form of a bull.

In the East, the Chinese call Taurus as the White Tiger of the West. It is considered one of the four greatest constellations in Chinese astrology. Taurus’s other name is the Great Bridge. Taurus stood for Osiris, father of Horus to the Egyptians. Osiris is the Egyptian god of the dead and the afterlife. Taurus’s horn was a symbol of fertility and riches in both the east and west for thousands of years.

How Taurus is formed
Taurus is easily visible in the northern hemisphere sky. It is between Aries and Gemini. To its north is Perseus and Auriga, to its south Eridanus and Orion, to its southwest Cetus. Hyades is the V-shaped cluster of stars in Taurus’s head. The bull’s red eye is Alderaban. Pleiades is somewhere in Taurus’s shoulder. Leftovers of supernova AD 1054 and Crab nebula are also found inside Taurus.  Most times only the tips of the horns are seen up front. The horns are formed by Beta and Zeta.   Taurus also contains a spherical cluster of about 400 stars called Hyades.  They are found behind Alderaban. It is widely believed three of Taurus’s stars are exoplanets.

The Stars of Taurus
Moreover, Taurus has a number of binary stars. These stars include Struve binaries. The Hyades stars inside Taurus move in the same direction and at almost the same speed. It is believed they all began from one point. The formation dates back between 600-800 million years ago. The stars making up Praesepe may be also related to Taurus.

Taurus has many other less known stars within its sphere. Elnath or Beta Tauri, and Alpha Tauri  are close by. Taurus’s highest point occurs in January. Like most constellations, Taurus has open clusters and  globular clusters.

next!
from josephinewall.co.uk says that taurus is:
the sign of the bull, is the one that others count on to come through in the clutch. Driven by determination and power, Taureans tend to be successful because of the perseverance that motivates them. Everyone seems to know that a Taurus has a temper, but rarely do they get to see it. Taureans are patient, gentle and possess an enormous amount of common sense. Those born under this sign usually get all that they pursue in life. Being a fixed sign, Taureans do not adapt well to change; they simply cannot be rushed into anything new. Ruled by Venus, Taureans are romantics whose sensibility keeps their feet on the ground even while they dream among the stars.


hehe.... jadi terharu nih yang punya bintang Taurus. sedikit berbangga gapapa lah yaa.... ^^
after knowing your good sides, Guys... let's make a new spirit!! say all good things here then remember that U ARE WHAT YOU THINK.... Spirit for u all, Taureans ^^9

Kamis, 11 Agustus 2011

Alhamdulillaah....

SYUKUR
AUGUST 2011, 10TH
Inginku.....
Berjalan santai tanpa hambatan
Terbang ringan
Bersama burung-burung
Tinggi mencapai awan

Mauku....
Hidup dengan tentram
Mencintai dan dicintai
Bersama orang-orang tersayang

Tiap hari bersanda gurau
Bercengkerama di alam bebas
Menyayangi hewan-hewan
Mengagumi bintang-bintang

Memanjat pohon, mengintai mentari
Mendaki gunung, menantang langit

Berenang, memeluk birunya laut
Menyapa terumbu karang, rumah ikan-ikan

Sayang.....
Betapa hidup ini terlalu indah
Bila dilewati dengan penuh keluhan

Buka mata dan lihatlah sekitar
Maka bibirmu spontan ‘kan bungkam
Kar’na ribuan syukur yang terucap
Masih saja terasa kurang

Kini dada serasa terbusungkan
Ingin menumpahkan segala isi, hasil pengindraan
Seketika diri ini pun mengerdil pula
Bagai kurcaci tersesat, mohon petunjuk dari Sang Pencipta