Start From: Who You Are
siapalah aku hingga kau sudi membaca coretan ini
Siapa aku? Hahaha. Aku bukan siapa-siapa, bagiku. Namun mungkin jawabannya akan berbeda bila yang memberikan adalah kedua orang tuaku, atau mungkin dari orang yang paling menyayangiku?
Terlepas dari itu, aku seorang gadis, suka sekali menganalisis sesuatu dari sudut pandangku sendiri, tentu saja dengan berbagai ilmu – yang mungkin tak ada artinya di mata cendekiawan – yang telah kudapat selama kurang lebih 15 tahun aku belajar di bangku sekolah. Selain itu, aku juga suka mempelajari sesuatu dari dalam diriku, melebihi sukaku mempelajari sesuatu di luar sana yang lebih besar, lebih menarik dan lebih nge-trand untuk dipelajari sekaligus diperbincangkan. Kalimat ini sedikit terdengar hiperbolis tapi dengan mengetahui aku juga sangat suka melakukan introspeksi diri, akan sedikit mengurangi hiper-nya.
Sudah cukup banyak lembar introspeksi yang kubuat, kuterapkan – karena sudah MERASA menerapkan – kemudian kubuang begitu saja. Tapi aku tetap suka introspeksi. Bagiku, ini seperti siasat mengetahui (analisa) kemampuan dan kekurangan diri sendiri. Biasanya setelah berintrosepksiria, aku segera menyusun atau sekedar mengoreksi tarjet-tarjetku, baik yang jangka pendek, maupun jangka panjang. Bukankah ini cara jitu menghadapi hidup? Hehe.
Dari sekian alasan aku menyukai introspeksi, yang pertama adalah karena yang tahu segala sesuatu tentang kamu, adalah dirimu sendiri. Namun alasan yang paling kusuka bukan itu. Aku tipe orang yang (menurutku) fleksibel. Aku selalu ingin membaur dengan lingkunganku, meski seringkali kulakukan dengan cara yang kurang tepat (tak kan kubilang salah, karena aku belum selesai belajar – menurut psikolog, hehe). Dengan begitu, praktis aku akan sering memberi kontribusi di lingkunganku dan kuusahakan bahwa kontribusi itu adalah yang baik. Dari sini, aku memahami bahwa kehadiran (penciptaan) seseorang (atau bahkan sebuah benda, tak bernyawa sekali pun) di muka bumi ini bukan tak ada artinya. Mulailah aku memahami peran, di mana seharusnya aku berkontribusi dalam wujud tindakan, atau sekedar nasihat kepada teman-teman di sekitarku.
Sejauh ini, kutemukan ada sedikit masalah dengan introspeksi dan juga analisa yang menjadi hobi serta tak pernah absen di waktu luangku. Bahkan, bila terlalu lama aku jauh dari mereka – biasanya sampai aku suntuk – aku pun rindu dengan waktu-waktu itu. Waktu di mana aku hanya bersama diriku, memutar kembali memori terakhir, mencari-cari masalah, menelusuri penyebab dan mulai lagi memahami peran untuk melakukan pemecahan, sedikit demi sedikit. Semua itu, selama ini, kulakukan oleh diri sendiri. Lalu suatu ketika, aku mendapati dalam beberapa episode dalam hidupku, beberapa kali aku gagal melancarkan taktik menghadapi hidupku. Di saat itu pula aku menyadari kodratku sebagai perempuan yang hidupnya dipenuhi dengan selalu berbagi.
Di sinilah muncul seorang teman – sahabat lebih tepatnya – karena tak banyak orang yang bisa menyisakan “jejaknya” dalam perjalan hidupku seperti yang dia lakukan selama ini. Tentang seorang sahabt ini, lagi-lagi aku enggan menguraikan artinya dalam hidupku, karena aku mungkin hanya akan melebih-lebihkan dan membuat dia tidak nyaman. Namun demikian, tetap akan kujelaskan satu hal yang menurutku sangat vital. “Mata kita sendiri tidak akan menjadikan kita berwawasan, tetap butuh mata orang lain.” Seperti itu kira-kira, judul sebuah bagian dari novel simple yang terakhir kubaca. Aku sangat suka kata-kata sederhana yang bermakna dalam itu. Bahwa kehadiran seseorang tempat berbagi, meminta pendapat, menanyakan solusi, bertukar pikiran dan mungkin lebih sering sebagai teman bercanda, adalah sangat berarti, especially when we are stuck.
Kembali ke diriku (aku memang suka membahas hal-hal tentang diriku sendiri, haha). Seperti gambaran peran di atas, di mana aku selalu ingin melebur. Apakah ada yang tahu efek sampingnya?
Sebenarnya sudah agak lama kusadari, aku menjadi seorang yang tertutup, tak banyak bicara kecuali dengan yang benar-benar dekat denganku (bahkan dengan yang dekat ini saja aku masih suka diam). Aku suka berkumpul dengan orang banyak, yang bertujuan tentunya, karena ini seperti belajar lebih besar tentang introspeksi. Menerapkannya bukan terhadap diri tapi pada sebuah kesatuan. Dari sini, aku seringkali menomorduakan kepentingan-kepentingan pribadiku. Hal ini tepat sekali seperti dugaan para pembaca, adalah karena betapa inginnya aku berkontribusi dengan sepenuh hati, jiwa dan raga bagi lingkunganku. Situasi seperti ini membuat semacam tumpukan di diriku dan lagi-lagi membuatku butuh suatu tempat untuk berbagi.
Ketika itu, sempat hilang arti sahabat dan aku hanya mencoba mengingat-ingat serta menapak tilas setiap perkataan, setiap semangat, setiap senyuman yang selalu ia coba berikan ketika aku butuh. Entah itu hanya tipuan atau dia jadikan aku mainan atau alat penelitian, aku TAK PEDULI! Dan ketika aku lelah sendiri, dengan bodohnya kuputuskan untuk menjalin relatinship dengan lawan jenis. Dari sini muncul beberapa konflik lagi, lebih kompleks tentunya, dan akan melengkapi kisah hidupku. Selamat menantikan kelanjutannya!
[Behind The Kitchen. August 14Th, 2011]